Tak Lagi Tercepat, Terjauh, dan Terkeras di Dunia
Oleh: Bambang Hermawan
‘The World’s Longest, Hardest, Fastest Race for Traditional Fishing Vessels’ – julukan paling tepat untuk lomba perahu Sandeq Race. Bahkan, dalam rangka Festival Pemuda dan Olahraga Bahari 2006 lalu, “Lomba Perahu Nelayan Tradisional Terpanjang, Terberat dan Tercepat di Dunia” ini menjadi suatu ajang penuh superlatif: Sebuah lomba sepanjang lebih 300 mil laut, diikuti 48 perahu peserta dengan lebih 380 pelayar yang berlayar selama delapan hari dalam enam etape dan dua lomba tambahan tak punya ‘pesaing’ satu pun di dunia olahraga layar.
Awalnya, Sandeq Race adalah lomba perahu sandeq yang mengambil rute Mamuju – Makassar (awalnya Majene – Makassar). Sandeq Race mulai berlangsung sejak tahun 1995, tahun 2003 merupakan yang ke-7, 2006 yang ke-8, 2012 ke-13. Disebut terjauh, sebab rutenya menempuh jarak kurang lebih 480 km, dari Mamuju (ibukota Sulawesi Barat) di bagian tengah Pulau Sulawesi menuju ke selatan, Makassar (ibukota Sulawesi Selatan). Jarak bisa bertambah bila sandeq melakukan manuver “gergaji”, yang dilakukan ketika hembusan angin tidak pas mendorong sandeq ke arah yang dituju.
Tapi itu dulu, setidaknya 2011 lalu. Saat ini, Sandeq Race tahun ini hampir separuh jalan saja. Mainnya di “kampung” sendiri. Panitia saat ini hanya mampu mengurus Sandeq Race di “kampung-nya”, di Sulawesi Barat saja. Tak berani ke Sulawesi Selatan padahal peserta menginginkannya.
Dulu, Sandeq Race adalah kejadian kolosal di laut. Tak ada yang menandinginya di belahan dunia lain. Dulu, Sandeq Race berperan sebagai pelanjut adanya hubungan budaya antara suku-suku berorientasi laut di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat. Sejak Kabupaten Polmas, Majene, dan Mamuju memisahkan diri dari Sulawesi Selatan, Sandeq Race menjadi kegiatan penting yang memperlihatkan pada dunia bahwa sejatinya ada hubungan kebaharian antara selatan dengan utara di kawasan barat Pulau Sulawesi. Tapi, sekarang itu tak lagi. Sandeq mainnya di “kampung” sendiri.
Dulu, Sandeq Race semacam napak tilas budaya. Bahwa dulu orang-orang Mandar rutin berlayar ke Makassar untuk memasarkan sumberdaya alam dan hasil olahan sumberdaya manusianya? Kopra, minyak kelapa, sarung sutra, bahan baku tali, dan rotan adalah sekian komoditas dagang.
Bukankah Mandar mempunyai kesamaan budaya bahari dengan Bugis, Makassar, dan Bajau? Istilah-istilah navigasi dan teknik pembuatan perahu banyak samanya daripada perbedaannya. Oleh sebab itu, Sandeq Race patut dilestarikan agar tetap ada “pengingat” bahwa dasar budaya bahari Mandar, Bugis, Makassar, dan Bajau adalah sama.
Sandeq Race satu-satunya ajang pembuktian rutin setiap tahun bahwa Sulawesi atau Nusantara pada umumnya masih memiliki ratusan pelaut-pelaut ulung, yang cermat membaca angin, lihai melayarkan perahu dengan hanya mengandalkan layar, dan memiliki keberanian serta kekuatan fisik mengarungi ganasnya laut. Tapi, itu dulu.
Sandeq Race bukan hanya ajang memperlihatkan kecepatan sandeq atau ajang kompetisi semata yang dilakoni oleh orang-orang udik. Dibaliknya, Sandeq Race adalah dunia yang amat menarik, menggairahkan, dan penuh harmoni. Ada pertunjukan teater, ada pertunjukan tari, ada pertunjukan silat, dan musik. Dan itu terjadi di atas “panggung” pesisir, di atas perahu dan di laut: ketika sang tukang menyentuh bumi sesaat sebelum memulai pembuatan sandeq, ketika dukun menyalakan dupa dan merapal mantra, dan ketika darah dioleskan ke perahu; di masa para pattimbang berlompatan ke cadik dan katir bak Tarzan, berdiri di atasnya ketika sandeq tetap melaju beberapa puluh knot, dan tetap berdiri untuk beberapa jam kemudian; di kala sang punggawa bergulat dengan lengan kemudi sambil mata tetap tajam menatap arah hantaman gelombang, dan dikala pambeso bayabaya bergulat dengan tali daman; dan tajamnya haluan sandeq dan daun kemudi yang membelah laut, getaran tali penopang layar yang terbuat dari rotan, dan teriakan-teriakan nakhoda yang keras tapi diselimuti ungkapan kasih sayang terhadap anak adalah musik dan nyanyian penuh makna.
Polemik Sandeq Race
Ada polemik tentang siapa yang berhak mengurus Sandeq Race, demikian juga rutenya. Dalam sejarahnya, sosok sentral yang berperan sebagai pionir Sandeq Race adalah Horst H. Liebner. Antropolog maritim berkebangsaan Jerman. “Dulu waktu saya penelitian mengengai kebudayaan maritim Mandar di Majene, para nelayan mengusulkan kepada saya untuk mengadakan lomba ke Makassar. Maka, saya dan teman-teman memulai lomba sandeq ke Makassar pada tahun 1995,” tutur Horst suatu waktu.
Tak mengherankan, di benak passandeq atau pelaut-pelaut Mandar, Horst adalah Sandeq Race; Sandeq Race adalah Horst. Mungkin ada yang mendebat kalimat tersebut, tapi tanyalah kepada passandeq, “Bagaimana pelaksanaan Sandeq Race 2008 dan 2012?” Jawabnya seragam. “Kalau Horst yang urus, akan lain ceritanya”, atau “Ah, bukan Horst yang urus, jadinya kacau dan banyak yang tidak beres.”
“Siapa saja bisa urus Sandeq Race, yang penting pelaksanaannya baik. Pelaut diperhatikan, mereka dimanusiakan, keluarga mereka jangan diabaikan, aturan lomba ditegakkan, dan kita harus berempati,” tutur Horst ketika ditanyakan siapa yang berhak mengurus Sandeq Race.
Bagi pelayar sandeq, Horst itu identik dengan sikap empati. Dalam persiapan lomba, pelaut didatangi satu per satu dimintai pendapatnya. Dan di saat lomba, Horst itu menjadi bagian dari pelaut Mandar. Horst menjemput sandeq di laut, berbasah ria. Diberi minuman kala pelayar sandeq belum menginjak daratan.
Sederhananya, Horst itu berani basah. Bukan hanya basah, Horst itu juga seorang “passandeq”. Dia tahu banyak apa itu sandeq dan bisa melayarkan sandeq. Entah bagaimana dengan koordinator kepanitaan sekarang. Tidak usah bisa melayarkan sandeq, berlayar dengan sandeq apakah sudah pernah?
Memang itu bukan esensi, tapi dengan memahami apa itu sandeq dan pelayar-pelayarnya, kita bisa lebih mahfum apa itu Sandeq Race. Sandeq Race bukan semata-mata uang, hadiah atau imbalan, ada banyak sesuatu tak ternilai di situ. Saya bisa pastikan, lebih banyak peserta yang rugi mengikuti Sandeq Race daripada yang untung. Yang untung palingan yang mendapat juara satu dan pemiliknya menjamin gajinya. Sebagian besar diantaranya “main rugi”. Tapi koq mereka, yang rata-rata orang miskin, selalu ikut Sandeq Race?
Dalam sejarahnya, setidaknya tiga kali Sandeq Race “diambil alih” (baca: diurus langsung pemerintah). Pertama oleh pemerintah Sulawesi Selatan di awal tahun 2000-an, kedua pada tahun 2008, dan ketiga 2011 ini.
Tanpa bermaksud membanggakan satu pihak dan merendahkan pihak lain, setiap kali “diambil alih”, maka Sandeq Race akan mengalami penurunan kualitas (hal ini bisa dikonfirmasi ke peserta Sandeq Race yang sering ikut); maka tahun berikutnya tidak ada Sandeq Race. Sebab mereka kapok; baru sadar bahwa ternyata mengurus Sandeq Race tidaklah mudah.
Terlepas dari rute yang lebih pendek, Sandeq Race 2012 didengung-dengunkan akan lebih hebat dibanding Sandeq Race-Sandeq Race sebelumnya. Nyatanya jauh panggang dari api. Sosialisasi Sandeq Race 2012 amat menyedihkan. Baliho bisa dihitung jari jumlahnya, tak ada poster, stikernya pun lucu sebab desainnya tinggal potong stiker tahun sebelumnya lalu ditutupi dengan tanggal. Dan kabarnya, stiker itu sumbangan percetakan.
Dulu, ada ribuan poster disebar (yang saat ini masih tertempel di rumah peserta Sandeq Race), beberapa bulan sebelum hari H. Menjelang hari H, hampir setiap hari di Radar Sulbar. Sesekali di media cetak nasional dan regional. Di televisi juga ada persiapan, dan di majalah pesawat juga ada promosinya. Tahun ini bagaimana? Sosialiasi tak mantap, datangnya turis asing jangan harap banyak. Muncul satu batang saja hidung turis asing di Sandeq Race 2012 itu prestasi luar biasa, tidak usah banyak-banyak.
Dulu, setiap kepala pelayar sandeq mendapatkan tiga lembar baju kaos berkualitas dengan cetakan/sablon yang membuat banyak pihak mengincar baju kaos Sandeq Race. Masyarakat umum pun kita beri kaos sebagai bentuk ucapan terima kasih sebab membantu Sandeq Race. Sekarang bagaimana?
Dulu, beberapa menit setelah lomba selesai, penonton akan langsung bisa mendapatkan klasmen lomba dalam bentuk print out atau fotokapian dan hasilnya langsung bisa diakses di internet. Sekarang bagaimana? Beberapa saat sebelum saya membuat tulisan ini, di hari pertama lomba, teman yang terlibat di kepanitaan mengabari saya bahawa dia belum melihat komputer satu unit pun. Komputer saja tidak ada, bagaimana bisa membuat database dan menyebarkan hasil lomba?
Parahnya, di hari pertama lomba kemarin (Kamis, 30/8), start-nya tak karu-karuan. Start diulang. Kabarnya, karena pelayar mengira musik elekton itu aba-aba lomba. Untung masih segitiga, bagaimana kalau lomba etape. Yang saya takutkan saat finish. Bila tak ada yang mendokumentasikan perahu yang melintas finish, itu akan menjadi bom waktu. Sebab bila perahu bersamaan masuknya baru tidak ada foto atau video yang bisa dijadikan acuan mengetahui siapa yang duluan masuk, maka akan menimbulkan kericuhan.
Tulisan ini tak bermaksud mengabaikan kerja keras di kepanitiaan tahun ini. Saya, sebagai salah satu stakeholder sandeq dan Sandeq Race hanya berharap agar teman-teman di kepanitiaan betul-betul profesional mengurus Sandeq Race. Dan yang lebih penting memanusiakan para pelayarnya. Mereka harus dihormati dan dilayani sebaik-baiknya. Sebab sejatinya merekalah pemilik kebudayaan sandeq, kebudayaan yang mengenalkan Sulawesi Barat ke pentas nasional dan wajah dunia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar