Selasa, 06 November 2012

Mengenang Ibu Kartini dari Sulawesi

Tanggal 8 maret adalah hari yang bersejarah bagi seluruh perempuan di dunia. Dimana perempuan mempringati saat-saat dimulainya sebuah perhelatan besar-diberikannya kesempatan bagi perempuan untuk menyalurkan suaranya dalam menentukan pemimpin bangsanya. Dalam sejarahnya, Peristiwa yang pertama kalinya berlangsung pada Maret 1911 ini terlebih dahulu dipelopori oleh Puan John Stuart Mill, Ahli Parlimen Wanita di England, dengan sarannya agar kaum wanita diberikan hak untuk mengundi dalam pimilihan raya.
Seperti Puan John Stuart Mill yang telah berjuang dalam konteks politik, menarik untuk kita mengingat kembali bagaimana pejuang perempuan yang lain-khususnya di beberapa daerah di Indonesia-dalam konteks budaya (kedaerahan). R.A kartini dari Jawa, Cut Nyak Dien dari Aceh, dan seterusnya, adalah nama-nama yang sudah familiar (baik di tingkat nasional dan internasional) kiprahnya dalam membela perempuan di masanya. Bahkan gelar pahlawan sudah berhasil kantonginya.
Pahlawan Perempuan Sulawesi Selatan
Mari kita menengok sejarah yang lain-sejarah perjuangan perempuan-perempuan dari daerah lain-yang jarang sekali kita dengar kiprahnya. Di Sulawesi Selatan (ibukotanya Makassar) misalnya, terdapat beberapa pejuang perempuan yang ikut serta melawan kedikatatoran kolonial Belanda. Mereka antara lain adalah Opu Daeng Risaju, Emmy Saelan, Andi Depu dan Salawati Daud.
Opu Daeng Risaju (1880-1964) misalnya, adalah anak perempuan keturunan Raja di Luwu (ibu kotanya Palopo) yang berani tampil melintasi batas-batas adat-istiadat yang sangat kental berlaku saat itu. Dalam adat Sulawesi Selatan, khususnya anak keturunan raja, dilarang ikut serta dalam hal-hal yang berbau politik. Jangankan politik, bahkan dalam pergaulan sehari-hari, perempuan sangat dikekang.
Dalam masyarakat Sulawesi Selatan, ada sistem nilai budaya yang disebut Siri’ na Pesse. Secara harfiah siri’ berarti malu. Secara kultural siri’ mengandung arti pertama, ungkapan psikis yang dilandasi perasaan malu yang dalam guna berbuat sesuatu hal yang tercela serta dilarang oleh kaidah adat. Kedua, yaitu nilai harga diri yang berarti kehormatan atau disebut martabat. Pesse merupakan padanan kata siri’. Secara harfiah pesse mengandung arti pedih atau perih meresap dalam kalbu karena melihat penderitaan orang lain. Pesse berfungsi sebagai pemersatu, penggalang solidaritas, pembersamaan serta pemuliaan humanitas (‘sipakatau’) (baca: Salma Gose)
Hampir sama dengan Kartini, Opu daeng Risaju adalah perempuan yang tidak mengenyam pendidikan formal (pendidikan Barat saat itu). Namun, melihat kondisi pemerintahan saat itu, Ia berani mengadakan “pemberontakan” terhadap kezaliman kolonial Belanda. Ia merasa bahwa terjun langsung berjuang di masyarakat adalah sebuah pekerjaan sosial.
Opu Daeng risaju sangat konsen berjuang di wilayah politik. Ia ikut bergabung dalam organisasi Pergerakan Kebangsaan Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII). Bahkan dalam perjalannya, Ia mendirikan PSSI cabang palopo (tempat ia tinggal). Pergerakan Opu semakin lama, dianggap membahayakan keberadaan pemerintah kolonial, sehingga Ia diminta untuk menghentikan gerakan politiknya. Tapi, Opu tidak mengidahkan permintaan pemerintah, sehingga gelar kebangsawanannya (“Opu”) dicabut oleh raja Luwu.
Lagi-lagi Opu tidak peduli dengan semua itu. Pergerakan tetap dijalankannya, hingga akhirnya Ia dipenjara selama 11 bulan. Selam proses itu, Opu mengalami banyak penyiksaan dan pelecehan, sampai-sampai Ia mengalami tuli seumur hidup. Selepas menjalani hukuman penjara, Opu Daeng Risaju kembali meneruskan perjuangannya. karena baginya, berjuang melawan kezaliman adalah sebuah kemuliaan.
Semoga semangat Opu Daeng Risaju serta pahlawan-pahlawan perempuan yang lain menjadi inspirasi bagi kita semua, khususnya para perempuan di seluruh belahan dunia. Selamat merayakan hari perempuan sedunia!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar